Dalam
pada itu, ada aliran atau paham yang tidak pernah difatwakan oleh
lembaga formal para ulama Indonesia seperti MUI (Majelis Ulama
Indonesia), namun keberadaannya di tengah-tengah masyarakat Islam
Indonesia bahkan di kalangan umat Islam di dunia terbukti sangat
meresahkan. Faham itu bernama Salafi dan Wahabi. Banyak ulama yang
secara pribadi bahkan telah terang-terangan menyatakan faham ini sebagai
"masalah" di kalangan umat Islam.
Tidak
difatwakan sebagai aliran sesat, tidak selalu berarti lurus dan benar.
Sebab apa yang hakikatnya lurus dan benar seyogyanya tidak memunculkan
masalah dalam prakteknya pada kehidupan sosial, kecuali hanya akan
menghadapi tantangan dari orang-orang kafir atau munafik yang tidak suka
terhadap Islam.
Pertanyaannya,
mengapa kaum Salafi dan Wahabi ini di satu sisi hampir tidak pernah
"bermasalah" dengan orang-orang kafir, di sisi lain malah gemar sekali
"mempermasalahkan" saudaranya sendiri sesama muslim yang mayoritas tidak
sepaham dengan mereka? Bagaimana mungkin pengakuan mereka sebagai
pengikut al-Qur'an & Sunnah Rasulullah Saw. dapat dibenarkan,
sementara sikap mereka bertolak belakang dengan ciri-ciri pengikut
Rasulullah Saw. yang difirmankan oleh Allah Swt., "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…"(QS.
al-Fath: 29)? Ayat al-Qur'an atau hadis Rasulullah Saw. yang manakah
yang menyuruh mereka bersikap "keras" terhadap saudaranya yang muslim?
Berbagai
kasus ketidaknyamanan yang disampaikan masyarakat di berbagai wilayah
akibat fatwa-fatwa dan pernyataan kaum Salafi dan Wahabi inilah yang
menjadi motivasi kuat bagi kami untuk membuat buku atau film dakwah ini.
Propaganda paham mereka yang lumayan gencar melalui terbitan buku-buku
terjemahan dan siaran Radio seperti Radio Dakta Bekasi (FM/107 Mhz), Radio Roja' Cileungsi (AM/756 Mhz), dan Radio Fajri Bogor (FM/91,4 Mhz) telah semakin meresahkan. Menganggap sesat amalan orang lain dengan tuduhan bid'ah
dan menganggap hanya diri merekalah yang sejalan dengan al-Qur'an dan
Sunnah Rasulullah Saw. serta Sunnah para Shahabat beliau, menjadi tema
utama dakwah mereka. Bahkan dengan alasan itu mereka berani mengeluarkan
fatwa-fatwa atau pernyataan terhadap amalan masyarakat yang "berbau
agama" di mana fatwa-fatwa tersebut tanpa mereka sadari penuh tipu daya
dan fitnah, dan dari sinilah masalahnya dimulai.
Keawaman
masyarakat tentang agama telah memberi tempat yang cukup besar bagi
mereka untuk menyebarkan paham Salafi dan Wahabi tersebut, sehingga
semakin banyak pengikutnya, semakin kuat ekslusivisme mereka. Saat
seorang muslim sudah tidak menganggap muslim yang lain sama dengan
dirinya, dan saat ia sudah tidak merasa nyaman berkumpul bersama muslim
yang tidak sepaham dengannya, maka mengasingkan diri dan mencari
kumpulan orang-orang yang sepaham dengannya adalah jalan keluarnya.
Itulah ekslusivisme; itulah kesombongan; dan itulah sumber perpecahan.
Lebih
ekstrimnya lagi, ketika sudah merasa kuat, propaganda mereka jalankan
dengan terang-terangan, bahkan tak jarang (dan ini terbukti) sampai pada
perebutan atau penguasaan lahan dakwah seperti masjid, musholla, ta'lim
di kantor-kantor, atau minimal merintis kumpulan pengajian tandingan
baik di tempat-tempat tersebut maupun di rumah-rumah. Akibatnya, tanpa
disadari mereka sudah menguasai sarana kegiatan dakwah di beberapa
komplek perumahan, dan telah merebut anggota "jama'ah" pengajian para
ustadz di wilayah setempat yang berbuntut pada terganggunya hubungan
silaturrahmi antar anggota jama'ah tersebut.
Buku
ini dibuat bukan untuk memperbesar jurang perpecahan tersebut,
melainkan untuk memperbaiki keadaan yang tidak nyaman itu dan meluruskan
apa yang seharusnya diluruskan dengan cara menyingkap
kekeliruan-kekeliruan pemahaman kaum Salafi dan Wahabi yang sangat
tersembunyi dan hampir tidak pernah disadari oleh para pengikutnya
bahkan tokoh-tokoh ulamanya.
Di
satu sisi, melalui buku ini kami berharap agar masyarakat awam yang
belum terpengaruh dapat membentengi diri dari paham yang merusak
silaturrahmi ini, di sisi lain kami juga sangat berharap agar
orang-orang yang sudah mengikuti paham Salafi dan Wahabi dapat menyadari
kekeliruannya lalu berusaha memperbaikinya, atau bahkan
meninggalkannya. Itulah kenapa buku ini kami beri judul "MENYINGKAP TIPU
DAYA & FITNAH KEJI FATWA-FATWA KAUM SALAFI & WAHABI".
Semoga
Allah senantiasa memberikan taufiq kepada kita untuk dapat melihat yang
benar sebagai kebenaran dan memberikan kita kekuatan untuk
mengikutinya, serta memperlihatkan yang batil sebagai kebatilan dan
memberikan kita kekuatan untuk menjauhkan diri darinya. Kepada-Nya lah
kami berserah diri, dan kepada-Nya lah kami kembali.

0 komentar:
Posting Komentar